Lompat ke isi utama

Berita

Kelas Demokrasi Bawaslu Kota Bekasi, Ruang Edukasi Politik bagi Generasi Z

Choirunnisa Marzoeki

Anggota Bawaslu Kota Bekasi Choirunnisa Marzoeki dan Jhonny Sitorus bersama pelajar SMPIT Nur Hikmah

KOTA BEKASI - Suasana belajar di SMP Islam Terpadu Nur Hikmah tampak lebih semarak dari biasanya ketika Bawaslu Kota Bekasi hadir menggelar kegiatan bertajuk Kelas Demokrasi, Jum'at (13/2). Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan yang hangat antara pengawas pemilu dan para pelajar untuk berbincang santai namun bermakna seputar demokrasi.

Ruang kelas pun berubah menjadi ruang diskusi yang hidup. Para siswa-siswi terlihat aktif menyimak materi, lalu tak ragu mengangkat tangan ketika sesi tanya jawab dibuka. Interaksi berlangsung dua arah, penuh rasa ingin tahu dan semangat khas Gen-Z.

“Kenapa pemilih harus masuk DPT (Daftar Pemilih Tetap) untuk mencoblos di TPS?” tanya salah satu siswa.

Yang lain penasaran, “Kalau saya mau jadi wali kota, apa syarat menjadi calon wali kota?”

Tak berhenti di situ, muncul pula pertanyaan yang lebih reflektif seperti, “Apakah layak orang berlatar belakang militer menjadi presiden atau kepala daerah?” hingga celetukan khas remaja, “Pemuda mager, gimana cara mempertahankan semangat Sumpah Pemuda?”

Setiap pertanyaan disambut riuh tepuk tangan dan sorakan teman-temannya, menciptakan suasana diskusi yang hidup dan penuh energi.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas (P2HM) Bawaslu Kota Bekasi, Choirunnisa Marzoeki, mengatakan pendekatan komunikasi menjadi kunci agar pesan demokrasi dapat diterima dengan baik oleh kalangan Gen-Z.

“Kami gunakan pendekatan komunikasi untuk merespon mereka, yakni dengan metode analogi, kontekstual dan diselingi canda ala Gen Z,” ujarnya usai kegiatan.

Menurutnya, substansi materi demokrasi pada dasarnya sama, namun cara penyampaiannya perlu disesuaikan dengan karakter peserta. Terlebih, siswa kelas sembilan merupakan kelompok calon pemilih pemula yang pada Pemilu mendatang telah berusia 17 tahun dan memiliki hak pilih.

“Pelajar SMP kelas sembilan adalah kelompok pemilih pemula yang akan berusia 17 tahun pada Pemilu mendatang. Kami harus meyakinkan mereka tentang pentingnya datang ke TPS,” jelasnya.

Bawaslu Kota Bekasi
Bawaslu Kota Bekasi foto bersama jajaran Guru dan Pelajar SMPIT Nur Hikmah

Apresiasi juga datang dari Kepala SMPIT Nur Hikmah, Hariyanto. Ia menilai pendekatan komunikatif yang digunakan Bawaslu membuat materi demokrasi terasa dekat dan mudah dipahami.

“Kami apresiasi kegiatan Bawaslu yang menyampaikan nilai-nilai demokrasi dengan cara pendekatan komunikasi Gen-Z,” ujarnya didampingi guru mata pelajaran Pancasila, Renny Ambarwati.

Ia menambahkan, sekolah melalui program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) juga memiliki misi serupa, yakni mengenalkan nilai demokrasi sekaligus menyiapkan pelajar sebagai pemilih pemula yang cerdas dan bertanggung jawab.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Bawaslu Kota Bekasi Vidya Nurrul Fathia, Anggota Bawaslu Kota Bekasi Jhonny Sitorus, Kasubag Pengawasan dan Humas Rendy Tri Rachmawan, jajaran staf sekretariat Bawaslu Kota Bekasi, serta para guru wali kelas sembilan.

Ke depan, Bawaslu Kota Bekasi akan terus menyapa para pelajar dan komunitas masyarakat lainnya, termasuk kelompok rentan, guna memastikan hak pilih mereka terlindungi dan tidak disalahgunakan. Program Kelas Demokrasi sendiri merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara berkelanjutan oleh Bawaslu Kota Bekasi di masa non-tahapan pemilu, sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan politik yang inklusif dan berkesinambungan bagi masyarakat Kota Bekasi.

Humas-Af