#PancasilaAnywhere
|
Kapan terakhir kali kita melihat Pancasila? Pertanyaan ini terdengar aneh. Bukankah Pancasila ada di mana-mana? Di ruang kelas, kantor pemerintahan, buku pelajaran, hingga pidato pejabat. Setiap 1 Juni, Pancasila kembali menjadi tema utama dalam berbagai seremoni kebangsaan.
Namun, jika pertanyaannya diubah sedikit menjadi: kapan terakhir kali kita merasakan Pancasila? Jawabannya mungkin tidak semudah itu. Sebab, yang sering terjadi, Pancasila hadir sebagai simbol, tetapi absen sebagai perilaku.
Kita menghafalnya sejak kecil, tetapi sering lupa mempraktikkannya ketika dewasa. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Pancasila tidak cukup hanya dibumikan. Ia harus hadir di mana-mana. #PancasilaAnywhere.
Bukan hanya di podium. Bukan hanya di ruang seminar. Bukan hanya dalam dokumen negara. Melainkan di tempat-tempat biasa, tempat kehidupan sehari-hari berlangsung.
Selama ini, Pancasila kerap diperlakukan seperti benda pusaka yang disimpan di lemari kaca. Ia dihormati, tetapi jarang disentuh. Dijaga, tetapi tidak digunakan. Akibatnya, kita sering terjebak pada ritual kebangsaan tanpa benar-benar menghidupi nilai kebangsaan itu sendiri.
Padahal, para pendiri bangsa tidak merumuskan Pancasila untuk menjadi pajangan konstitusional. Mereka merumuskannya sebagai kesepakatan hidup bersama di tengah perbedaan yang luar biasa besar. Karena itu, ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa banyak orang mampu menghafal lima silanya. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa sering nilai-nilainya muncul dalam interaksi sosial sehari-hari.
Dari perspektif kepemiluan, tantangan terbesar demokrasi bukan hanya memastikan pemungutan suara berlangsung jujur dan adil, tetapi juga menjaga agar perbedaan pilihan politik tidak berubah menjadi perpecahan sosial. Biarlah istilah “cebong” dan “kampret” menjadi pelajaran tentang bagaimana polarisasi politik dapat melukai kohesi sosial, terlebih ketika diperparah oleh dinamika kampanye dan algoritma media sosial. Pemilu dan pilkada pada dasarnya adalah mekanisme demokrasi untuk memilih pemimpin. Namun, setelah seluruh proses selesai, masyarakat tetap harus kembali hidup berdampingan sebagai tetangga, rekan kerja, sahabat, dan sesama warga negara.
Menjelang setiap peringatan Hari Lahir Pancasila, kita selalu mendengar seruan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Seruan itu penting. Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai tema peringatan tahunan.
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak praktik Pancasila: di kantor, di pusat perbelanjaan, di kafe, di rumah ibadah, di sekolah, di media sosial, di lingkungan tempat tinggal, di pos ronda, dan di setiap ruang tempat manusia bertemu dengan sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Karena pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diucapkan, melainkan oleh seberapa sering ia dirasakan. Jangan menunggu 1 Juni untuk menjadi Pancasilais. Mulailah hari ini.
Sebab, Indonesia yang berpancasila tidak dibangun setahun sekali melalui upacara dan pidato. Ia dibangun setiap hari melalui tindakan-tindakan kecil yang menunjukkan penghormatan, keadilan, gotong royong, dan kemanusiaan.
Singkatnya, Pancasila harus ada di mana-mana. #PancasilaAnywhere.
Penulis: Jhonny Sitorus (Anggota Bawaslu Kota Bekasi)
Editor: Humas-Af